Sunday, 9 October 2016
Metagenesis
Metagenesis atau pergiliran keturunan merupakan proses perkembangbiakan secara bergiliran antara perkembangbiakan kawin (seksual) dan perkembangbiakan tak kawin (aseksual). Metagenesis dapat terjadi pada hewan, seperti pada ubur-ubur kuping ataupun pada tumbuhan, seperti pada tumubuhan lumut dan paku.
1. Metagenesis pada ubur-ubur
Bagaimanakah proses metagenesis pada ubur-ubur? Perhatikanlah gambar 1.11!
Ubur-ubur kuping dewasa disebut medusa karena berbentuk seperti payung dan dapat berenang bebas. Ubur-ubur dewasa berkelamin terpisah, ubur-ubur betina menghasilkan sel telur, sedangkan ubur-ubur jantan mengeluarkan sel sperma. Telur ubur-ubur yang telah dibuahi oleh sperma akan membentuk zigot. Zigot akan berkembang menjadi larva yang memiliki rambut getar (silia) yang dinamakan Planula. Planula merupakan larva yang dapat berenang bebas. Kemudian Planula akan menempel pada tempat yang cocok seperti batu karang. Planula tersebut akan tumbuh membentuk truktur seperti treompet yang disebut skifistoma. Skifistoma kemudian akan membelah membentuk strobila yang berupa tumpukan seperti mangkuk. Selanjutnya strobila akan membentuk ubur-ubur muda yang disebut efira. Efira akan berkembang menjadi medusa atau ubur-ubur dewasa.
Perkembangan bentuk dari skifistoma menuju strobila merupakan tahapan perekembangbiakan secara tak kawin pada ubur-ubur adalah dari bentuk skifistoma berkembang menjadi strobila, sedangkan perkembangan secara kawin, adalah tahap pengeluaran sel telur dan sperma oleh medusa sampai menjadi planula.
a. Metagenesis pada tumbuhan lumut
Tumbuhan yang melakukan metagenesis adalah tumbuhan lumut dan tumbuhan paku. Pada tumbuhan lumut dan paku perkembangbiakan secara kawin ditandai dengan dihasilkannya sel sperma dan sel telur, sedangkan secara tak kawin ditandai dengan dihasilkannya spora.
Perhatikanlah pergiliran keturunan pada lumut dari gambar 1.12! Perkembangan lumut diawali dari spora. Jika spora lumut jatuh di tempat yang cocok akan berkembang menjadi benang-benag yang disebut protonema. Protonema kemudian tumbuh tumbuhan lumut (gametofit) yang menghasilkan alat kelamin jantan atau anteridium dan alat kelamin betina atau arkegonium. Anteridium menghasilkan sel sperma, sedangkan arkegonium menghasilkan sel telur. Sperma akan membuahi sel telur dan terbentuk zigot. Zigot akan tumbuh menjadi sporofit. Sporofit terdiri atas kaki, tangkai, dan sporangium yang menghasilkan spora.
b. Metagenesis pada tumbuhan paku
Seperti halnya pada tumbuhan lumut, pada tumbuhan paku perkembangbiakan secara tidak kawin ditandai dengan dihasilkannya spora dan perkembangbiakan secara kawin ditandai dengan dihasilkannya sel telur dan sel sperma.
Metagensis pada tumbuhan paku diawali dengan jatuhnya spora ke tempat lembab. Spora akan tumbuh membentuk lembaran-lembaran berbentuk jantung yang disebut protalium. Protalium dapat menghasilkan anteridium dan arkegonium yang keduanya dapat menghasilkan sel gamet. Oleh karena itu protalim merupakan fase gametofit. Anteridum menghasilkan sperma, sedangkan arkegonium menghasilkan sel telur. Sperma yang membuahi sel telur akan membentuk zigot. Zigot akan tumbuh menjadi tumbuhan paku. Tumbuhan paku menghasilkan spora yang disimpan di dalam kotak spora atau sporangium. Sporangium terkumpul dalam suatu tempat yang disebut sorus. Kaena tumbuhan paku dapat menghasilkan sopra, maka tumbuhan paku disebut fase sporofit.
Subscribe to:
Post Comments (Atom)
No comments:
Post a Comment